Senin, 30 November 2015

Cerpen Religi

Gejolak Si Jaka
Dimas Maulana Yustiyan

Beliau dipandang sederhana. Beliau tinggal di sebuah desa terpencil, dekat pondok dan yayasan Islam. Rumahnya tak berdinding dari batu bata, hanya papan persegi yang menghiasi dinding rumahnya. Atap rumahnya bergenting tua yang sudah bewarna hitam. Jika tetesan air berkah dari langit turun, meresaplah sampai lindungan Pak Jaka. Rumah Pak Jaka sudah lama ingin direnovasi kepada dermawan atau kerabat dekatnya. Namun, Pak Jaka tetap bersyukur dengan keadaan yang dialaminya sekarang. Pak Jaka tetap berpendirian teguh untuk tetap hidup sederhana. Karena beliau hanya ditemani seorang istri. Satu anaknya sudah merantau ke sebrang pulau untuk mencari nafkah. Putranya tak pernah durhaka dengan orang tuanya, sehingga doa restu dari orang tua, selalu melingkari aktivitas putra Pak Jaka. Satu-satunya tulang punggung keluarga yang kini berjas boss dan berdasi.
Duduk di atas kursi kayu bergoyang. Kursi tersebut bukan kursinya orang kaya. Namun, kursi kayu lama yang sudah akan rapuh. Sehingga, jika di duduki manusia berbobot ringan terasa goyang serta berbunyi seperti tikus kecil berkeliaran. Tangannya memegang buku tebal. Alquran. Kesehariannya dipenuhi dengan membaca alquran dan ibadah. Rumah Pak Jaka memang sederhana. Namun, dibalik kesederhanaan itu, rumah Pak Jaka tak kunjung sepi didatangi manusia. Rumah sesederhana itu, memiliki tamu yang beragam. Berkendara roda empat, berjas, remaja, muslim, non muslim, tua, bahkan anak-anak pun Pak Jaka melayaninya dengan sopan. Lelaki tua itu, dikenal mempunyai rasa sosial tinggi dan mempunyai kelebihan diantara manusia yang lain. Disaat adzan berkumandang, Pak Jaka disiplin dalam berjamaah, tak pernah terlambat dalam raka’at. Pak Jaka pun tak segan mengajak tamunya untuk sholat berjama’ah di masjid. Bergantung agama masing-masing dari setiap tamunya. Disaat Pak Jaka berjalan menuju masjid yang dekat rumahnya, beliau terlihat masih bugar. Dilihat dari wajahnya, memang sudah mengendur seakan terlihat keriput-keriput tua yang menempel di sekujur tubuhnya. Badannya kecil. Pendek. Hitam kulitnya. Ia tak pernah lupa menyisihkan uang hasil kiriman dari anaknya yang berjas dan berdasi di sebrang pulau untuk di infaqkan di kotak amal masjid.
Dulu semenjak Pak Jaka masih kecil, tidak mempunyai pendirian dalam beragama. Kedua orang tua Pak Jaka sudah meninggal saat bayi. Diasuhlah bayi itu kepada pamannya. Pertama kali, ia memeluk agama Hindu, karena saat itu Jaka diasuh oleh pamannya yang lingkungannya mayoritas memeluk agama Hindu. Pak Jaka dengan tekunnya taat ibadah pada agama Hindu yang diyakininya. Setelah beranjak remaja, ia hanya lulus pada tingkatan SMP. Karena keterbatasan biaya. Pak Jaka yang saat itu masih remaja, ia selalu gelisah dengan keyakinannya, ia tidak tenang dalam hatinya. Masalah hidup sering ia alami. Namun, hatinya selalu bergejolak. Seakan belum menemukan ketenangan hatinya. Gejolak itu ibarat datang gempa bumi berkekuatan besar di dalam hatinya. Tak karuan. Hingga ia berteriak tak ada manfaat apa-apa. Orang lain yang melihat Jaka, dalam benaknya mungkin hanya sebuah cemoohan orang gila belaka. Tak lama kemudian, pamannya meninggal dunia. Hati Pak Jaka seperti tak berarti lagi. Ia hidup sebatangkara.
Dengan kesendirian itu, merantaulah dia ke sebuah kota. Malamnya ia mencoba menenangkan diri di sebuah tempat. Ia duduk di lantai. kepala tertunduk lesu menadahi tumpukan tangan yang disangga kedua lutut kaki yang ditekuk rapat, bersandar tembok tempat megah itu. Menangis tersedu-sedu. Tangisan duka mendalam yang dialami Jaka. Gedung tempat untuk menenangkan Jaka dengan tembok yang besar di suatu kota. Kemegahan gedung itu ditandai dengan tanda salip. Gereja. Tak lama kemudian, datanglah seseorang berjubah putih mendekat. “Wahai anak muda, apa yang engkau rasakan?”tanya seorang berjubah putih. Pertanyaan seorang tersebut tak ditanggapi oleh Jaka. Bahkan Jaka terus diam, dan menangis pelan. Air mata Jaka terus menetes membasahi 2 kotak lantai bersih yang tertempel di halaman gedung megah itu. “Tuhan Memberkatimu.” Orang berjubah putih kembali berucap. Tiba-tiba Jaka mendengarnya. Kepalanya terangkat menatap wajah seorang berjubah putih. Dengan reflek tubuh Jaka kaget melihat orang itu. Posisi kesedihannya semula berubah. Pantat, paha, dan kaki diseret-seret mengayunkan beban kedua tangannya. Ia seperti ketakutan melihat sesosok hantu yang besar di malam itu. Memang orang berjubah putih itu berawak besar. Tinggi. Kulit kuning bersih seperti terlahir di benua seberang, benua biru Eropa. Wajahnya sudah kendur penuh keriput tua yang menempel. “Janganlah takut, saya pendeta di gereja ini.” Sahut orang itu.
Setelah mendengar pengakuan pendeta, akhirnya Jaka luluh dan tinggal bersama pendeta tua itu. Tak lama kemudian Jaka memeluk agama Kristen. Sejak usia 18 tahun ia memeluk agama Kristen. Ia selalu rajin dalam beribadah. Dalam ketaatannya, pendeta itu akan mengamanahkan untuk melanjutkan tugasnya sebagai pendeta kepada Jaka. Namun, penawaran itu ditolaknya. Karena hati Jaka kembali tidak tenang. Rasa gundah, gelisah yang dialaminya sering menyerang kedalam otak dan jiwa Jaka. Gejolak itu dua kali lipat dari gejolak yang pernah ia alami waktu ia masih memeluk agama Hindu. Berkekuatan besar ibarat gempa bumi dan tsunami yang akan menghancurkan dan mempora-porandakan wilayah Aceh dan Sumut. Saat usia 25 tahun, ia kembali ditinggalkan seorang pendeta itu untuk selamanya. Meninggal dunia. Seseorang yang pernah ia kenal baik, dan mau menjadi bapak angkatnya sementara waktu itu. Saat itu ia kembali menangis. Seperti ada kehilangan sesuatu yang ada pada dirinya. Ia belum menemukan kesempurnaan dalam hidup. Gejolak hati yang membuat tertekan pada jiwanya seakan timbul seperti kesetanan dengan berteriak dengan suara lantang dan keras. “Aaaaaaaa...........!” botol aqua yang berserakan ditendang, pohon mangga di pinggir jalan, ia tendang hingga ia tak menyadarinya bahwa buah mangga yang matang dan masih muda berjatuhan secara bergantian. Tak lama kemudian merantaulah Jaka ke sebuah desa untuk mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.
Suatu ketika ia bekerja menjadi buruh perkebunan milik sebuah yayasan pondok Islam. Teman kerjanya semuanya beragama Islam. Hanya Jaka yang masih berstatus agama nonmuslim. Namun, ia tak membuatnya minder. Waktu itu, ia mempunyai teman baik yang bernama Ahmad. Usianya juga sepadan dengan Jaka. Bujang. Ahmad dikenal dengan pria yang santun, dermawan. Jaka yang belum mempunyai uang apa-apa, menawarkan untuk tinggal bersama dengannya dalam sebuah rumah mungil di dekat pondok. Ahmad juga seorang perantau dari Sumatra. “Jaka, rumah ini kecil, sederhana, tapi cukup untuk bertahan hidup untuk beberapa tahun.” “Jika kita mempunyai rizqi dari Allah, mari kita renovasi rumah ini.” “Bagaimana jaka?” “Iya Ahmad.” Kamu adalah sohibku yang paling baik.” Jawaban Jaka yang penuh bahagia.
Persahabatan mereka seperti kepompong. Suka dan duka mereka lewati. Saat adzan berkumandang Ahmad selalu berjama’ah di masjid dekat pondok itu. Setelah sholat, Ahmad selalu menyempatkan untuk membaca Alquran walaupun sebentar. Jaka mendengar lantunan Ahmad yang membacakan Alquran dengan suara yang indah. Kini hati tentram menyelimuti Jaka. “Shodaqallahuladzim.” Ahmad usai membaca Alquran, menciumnya Alquran itu dan dipegangnya dengan kedua tangan lalu, ditempelkan ke dadanya. Tiba-tiba Jaka lari menghampiri Ahmad dengan wajah yang penasaran bercampur dengan emosi diri yang memuncak. Itulah gejolak. Lalu, alquran dari genggaman dada Ahmad diserobotnya dengan penuh paksa. Ahmad sedikit melawan. Namun, perlawanan itu hanyalah sia-sia karena kekuatan Jaka lebih besar dengan perlawanan paksa. Ahmad terjatuh seraya mengucapkan, “Astaghfirullah hal Adzim.” Dapatlah Alquran itu ke tangan Jaka. “Kitab ini membuatku tenang Ahmad!” “ajari aku tentang kitab ini!” dengan luapan gejolak Jaka dan nada yang keras. “Iya Jaka. Aku akan mengajari kamu tapi tidak secara keras seperti ini, mari ikut aq ke pondok yayasan menemui pak Kyai.
Kemudian mereka berdua menemui Pak Kyai. Dengan tuntunan Pak Kyai, Jaka mengucapkan dua kalimat syahadat. Secara resmi, Jaka telah memeluk agama Islam di usia 28. Saat itu, ucapan Jaka ditandai dengan petir dan datangnya hujan. Sebelumnya cuaca begitu cerah dan panas. Pak Kyai dan Ahmad Kagum dengan suasana itu. Pak Kyai mengucapkan kalimat, “Laa Khaulawalaaquwwatabillah.”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar