Gejolak Si Jaka
Dimas Maulana
Yustiyan
Beliau dipandang
sederhana. Beliau tinggal di sebuah desa terpencil, dekat pondok dan yayasan
Islam. Rumahnya tak berdinding dari batu bata, hanya papan persegi yang
menghiasi dinding rumahnya. Atap rumahnya bergenting tua yang sudah bewarna
hitam. Jika tetesan air berkah dari langit turun, meresaplah sampai lindungan
Pak Jaka. Rumah Pak Jaka sudah lama ingin direnovasi kepada dermawan atau
kerabat dekatnya. Namun, Pak Jaka tetap bersyukur dengan keadaan yang dialaminya
sekarang. Pak Jaka tetap berpendirian teguh untuk tetap hidup sederhana. Karena
beliau hanya ditemani seorang istri. Satu anaknya sudah merantau ke sebrang
pulau untuk mencari nafkah. Putranya tak pernah durhaka dengan orang tuanya,
sehingga doa restu dari orang tua, selalu melingkari aktivitas putra Pak Jaka. Satu-satunya
tulang punggung keluarga yang kini berjas boss dan berdasi.
Duduk di atas kursi
kayu bergoyang. Kursi tersebut bukan kursinya orang kaya. Namun, kursi kayu
lama yang sudah akan rapuh. Sehingga, jika di duduki manusia berbobot ringan
terasa goyang serta berbunyi seperti tikus kecil berkeliaran. Tangannya memegang
buku tebal. Alquran. Kesehariannya dipenuhi dengan membaca alquran dan ibadah.
Rumah Pak Jaka memang sederhana. Namun, dibalik kesederhanaan itu, rumah Pak
Jaka tak kunjung sepi didatangi manusia. Rumah sesederhana itu, memiliki tamu
yang beragam. Berkendara roda empat, berjas, remaja, muslim, non muslim, tua,
bahkan anak-anak pun Pak Jaka melayaninya dengan sopan. Lelaki tua itu, dikenal
mempunyai rasa sosial tinggi dan mempunyai kelebihan diantara manusia yang
lain. Disaat adzan berkumandang, Pak Jaka disiplin dalam berjamaah, tak pernah
terlambat dalam raka’at. Pak Jaka pun tak segan mengajak tamunya untuk sholat
berjama’ah di masjid. Bergantung agama masing-masing dari setiap tamunya.
Disaat Pak Jaka berjalan menuju masjid yang dekat rumahnya, beliau terlihat
masih bugar. Dilihat dari wajahnya, memang sudah mengendur seakan terlihat
keriput-keriput tua yang menempel di sekujur tubuhnya. Badannya kecil. Pendek.
Hitam kulitnya. Ia tak pernah lupa menyisihkan uang hasil kiriman dari anaknya
yang berjas dan berdasi di sebrang pulau untuk di infaqkan di kotak amal masjid.
Dulu semenjak Pak Jaka
masih kecil, tidak mempunyai pendirian dalam beragama. Kedua orang tua Pak Jaka
sudah meninggal saat bayi. Diasuhlah bayi itu kepada pamannya. Pertama kali, ia
memeluk agama Hindu, karena saat itu Jaka diasuh oleh pamannya yang
lingkungannya mayoritas memeluk agama Hindu. Pak Jaka dengan tekunnya taat
ibadah pada agama Hindu yang diyakininya. Setelah beranjak remaja, ia hanya
lulus pada tingkatan SMP. Karena keterbatasan biaya. Pak Jaka yang saat itu
masih remaja, ia selalu gelisah dengan keyakinannya, ia tidak tenang dalam
hatinya. Masalah hidup sering ia alami. Namun, hatinya selalu bergejolak.
Seakan belum menemukan ketenangan hatinya. Gejolak itu ibarat datang gempa bumi
berkekuatan besar di dalam hatinya. Tak karuan. Hingga ia berteriak tak ada
manfaat apa-apa. Orang lain yang melihat Jaka, dalam benaknya mungkin hanya
sebuah cemoohan orang gila belaka. Tak lama kemudian, pamannya meninggal dunia.
Hati Pak Jaka seperti tak berarti lagi. Ia hidup sebatangkara.
Dengan kesendirian itu,
merantaulah dia ke sebuah kota. Malamnya ia mencoba menenangkan diri di sebuah
tempat. Ia duduk di lantai. kepala tertunduk lesu menadahi tumpukan tangan yang
disangga kedua lutut kaki yang ditekuk rapat, bersandar tembok tempat megah itu.
Menangis tersedu-sedu. Tangisan duka mendalam yang dialami Jaka. Gedung tempat
untuk menenangkan Jaka dengan tembok yang besar di suatu kota. Kemegahan gedung
itu ditandai dengan tanda salip. Gereja. Tak lama kemudian, datanglah seseorang
berjubah putih mendekat. “Wahai anak muda, apa yang engkau rasakan?”tanya
seorang berjubah putih. Pertanyaan seorang tersebut tak ditanggapi oleh Jaka.
Bahkan Jaka terus diam, dan menangis pelan. Air mata Jaka terus menetes
membasahi 2 kotak lantai bersih yang tertempel di halaman gedung megah itu.
“Tuhan Memberkatimu.” Orang berjubah putih kembali berucap. Tiba-tiba Jaka
mendengarnya. Kepalanya terangkat menatap wajah seorang berjubah putih. Dengan
reflek tubuh Jaka kaget melihat orang itu. Posisi kesedihannya semula berubah.
Pantat, paha, dan kaki diseret-seret mengayunkan beban kedua tangannya. Ia
seperti ketakutan melihat sesosok hantu yang besar di malam itu. Memang orang
berjubah putih itu berawak besar. Tinggi. Kulit kuning bersih seperti terlahir
di benua seberang, benua biru Eropa. Wajahnya sudah kendur penuh keriput tua
yang menempel. “Janganlah takut, saya pendeta di gereja ini.” Sahut orang itu.
Setelah mendengar
pengakuan pendeta, akhirnya Jaka luluh dan tinggal bersama pendeta tua itu. Tak
lama kemudian Jaka memeluk agama Kristen. Sejak usia 18 tahun ia memeluk agama
Kristen. Ia selalu rajin dalam beribadah. Dalam ketaatannya, pendeta itu akan
mengamanahkan untuk melanjutkan tugasnya sebagai pendeta kepada Jaka. Namun, penawaran
itu ditolaknya. Karena hati Jaka kembali tidak tenang. Rasa gundah, gelisah
yang dialaminya sering menyerang kedalam otak dan jiwa Jaka. Gejolak itu dua
kali lipat dari gejolak yang pernah ia alami waktu ia masih memeluk agama
Hindu. Berkekuatan besar ibarat gempa bumi dan tsunami yang akan menghancurkan
dan mempora-porandakan wilayah Aceh dan Sumut. Saat usia 25 tahun, ia kembali
ditinggalkan seorang pendeta itu untuk selamanya. Meninggal dunia. Seseorang
yang pernah ia kenal baik, dan mau menjadi bapak angkatnya sementara waktu itu.
Saat itu ia kembali menangis. Seperti ada kehilangan sesuatu yang ada pada
dirinya. Ia belum menemukan kesempurnaan dalam hidup. Gejolak hati yang membuat
tertekan pada jiwanya seakan timbul seperti kesetanan dengan berteriak dengan
suara lantang dan keras. “Aaaaaaaa...........!” botol aqua yang berserakan
ditendang, pohon mangga di pinggir jalan, ia tendang hingga ia tak menyadarinya
bahwa buah mangga yang matang dan masih muda berjatuhan secara bergantian. Tak
lama kemudian merantaulah Jaka ke sebuah desa untuk mencari pekerjaan untuk
bertahan hidup.
Suatu ketika ia bekerja
menjadi buruh perkebunan milik sebuah yayasan pondok Islam. Teman kerjanya
semuanya beragama Islam. Hanya Jaka yang masih berstatus agama nonmuslim.
Namun, ia tak membuatnya minder. Waktu itu, ia mempunyai teman baik yang
bernama Ahmad. Usianya juga sepadan dengan Jaka. Bujang. Ahmad dikenal dengan
pria yang santun, dermawan. Jaka yang belum mempunyai uang apa-apa, menawarkan
untuk tinggal bersama dengannya dalam sebuah rumah mungil di dekat pondok.
Ahmad juga seorang perantau dari Sumatra. “Jaka, rumah ini kecil, sederhana,
tapi cukup untuk bertahan hidup untuk beberapa tahun.” “Jika kita mempunyai
rizqi dari Allah, mari kita renovasi rumah ini.” “Bagaimana jaka?” “Iya Ahmad.”
Kamu adalah sohibku yang paling baik.” Jawaban Jaka yang penuh bahagia.
Persahabatan mereka
seperti kepompong. Suka dan duka mereka lewati. Saat adzan berkumandang Ahmad
selalu berjama’ah di masjid dekat pondok itu. Setelah sholat, Ahmad selalu
menyempatkan untuk membaca Alquran walaupun sebentar. Jaka mendengar lantunan
Ahmad yang membacakan Alquran dengan suara yang indah. Kini hati tentram menyelimuti
Jaka. “Shodaqallahuladzim.” Ahmad usai membaca Alquran, menciumnya Alquran itu
dan dipegangnya dengan kedua tangan lalu, ditempelkan ke dadanya. Tiba-tiba
Jaka lari menghampiri Ahmad dengan wajah yang penasaran bercampur dengan emosi
diri yang memuncak. Itulah gejolak. Lalu, alquran dari genggaman dada Ahmad
diserobotnya dengan penuh paksa. Ahmad sedikit melawan. Namun, perlawanan itu
hanyalah sia-sia karena kekuatan Jaka lebih besar dengan perlawanan paksa.
Ahmad terjatuh seraya mengucapkan, “Astaghfirullah hal Adzim.” Dapatlah Alquran
itu ke tangan Jaka. “Kitab ini membuatku tenang Ahmad!” “ajari aku tentang
kitab ini!” dengan luapan gejolak Jaka dan nada yang keras. “Iya Jaka. Aku akan
mengajari kamu tapi tidak secara keras seperti ini, mari ikut aq ke pondok
yayasan menemui pak Kyai.
Kemudian mereka berdua
menemui Pak Kyai. Dengan tuntunan Pak Kyai, Jaka mengucapkan dua kalimat
syahadat. Secara resmi, Jaka telah memeluk agama Islam di usia 28. Saat itu,
ucapan Jaka ditandai dengan petir dan datangnya hujan. Sebelumnya cuaca begitu
cerah dan panas. Pak Kyai dan Ahmad Kagum dengan suasana itu. Pak Kyai
mengucapkan kalimat, “Laa Khaulawalaaquwwatabillah.”
